kenapa dengan yang kita punya?
kenapa engkau harus memungutnya dari jalanan
batu itu sekian lama terendam di selokan
berlumpur bau menyengat tajam
dan meski engkau telah melihatnya sekian lama,
kutahu selama ini engkau selalu mendiamkannya
lalu kenapa pula engkau menggosoknya penuh harapan
padahal engkau tahu aku pasti akan keberatan
bukan karena baunya atau lapis lumpurnya
tapi karena kutahu engkau tak mungkin menyerah
sampai engkau akhirnya bisa mengkilapkannya.
kenapa engkau harus menyimpannya dalam pelukan
padahal sekarang kilapnya makin menyilaukan
gemerlapnya membuat mataku harus memejam
tapi seperti biasa, apapun yang kukeluhkan
engkau tak pernah merasa perlu menghiraukan
dan apakah engkau
masih akan menyimpannya
ketika engkau semestinya
mulai mengingat berapa
yang kita masih punya..?
——————–
(for "her", since the only man she’s ever known is breaking up her heart and home; and such is love that she would die for him while he would treat her carelessly..)
kita masih punya serpihan sinar
di antara onggokan yang kaupanggil itu lumpur
kita masih punya segenggam rumput
yang menggeliat memeluk jemari
tapi batu itu membawa geliat
dalam jiwa yang diam
dalam keping-keping waktu
yang telah terhenti
aku tahu itu terhenti
tapi takhenti kuseru
‘datanglah lagi!’
Sori, mbak, i’ve been hurt too maybe less, but i know this feeling of wanting to keep something even if it hurts so much. Hanya saja aku memutuskan untuk berhenti menyimpan batu lima tahun lalu. capek booooo
ofita — January 7, 2008 @ 7:54 pm