the call of the owl
dengan sejumput rona merah beranjaklah matahari meninggalkan nyanyian burung hantu. lalu berderaklah semua ranting pohon kayu tempat hinggapku. membara terbakar jadi arang dan abu. daun yang hijau-kuning dan yang coklat mengering tak sempat meluruh jatuh. mereka akhirnya meremah jua jadi debu. meninggalkanku yang sendiri berdiri setelah berdebam menimpa tanah basah pagi hari.
matahari makin menguning lalu memutih menyilaukan. bersambut embun sejuk yang menguap menyatu di udara lepas. bebaslah ia, namun ‘kan selalu datang lagi di setiap esok harinya. hingga matahari pun selalu merindukan hadirnya. namun selaksa sapa dan cicit burung tak pernah lelah mengabarkan kapan ia datang. dimana ia menanti. dan kemana ia ‘kan pergi.
dulu engkau berkawan dengan matahari itu
tapi kini,
burung hantu telah memanggilku…
Walaaahh… kok kowe iso Romantis dan melankolis? Jaman SMA mbiyen kowe isane sentrap-sentrup umbelen. Boro-boro melankolis, isane melonkolis, hehehehe.. Guyon, lho (meski karo serius, hehehe…)!
sgtptx
Homo Jogjanensis yang juga Homo THAnensis dan Homo Tontinensis
Sigit — September 11, 2007 @ 11:53 pm