bitterly sweet
"rasa seperti ini manis namanya".
itu kata-kataku untukmu di pagi buta menjelang keberangkatanku. buku masih setengah terbuka. masih belum pula kutahu bagaimana nanti akhir ceritanya. kau mungkin tak pernah membacanya. cuma menyimak ketika aku mengeja. tak hendak membantah, tapi juga tidak ada kata setuju…
"rasa seperti ini resah namanya".
itu kata-kataku ketika berjalan keluar rumahmu. masih langkahku tertahan sesekali. ketika pandangmu jatuh di ujung sepatu. atau sewaktu bicara kita mengharuskanku berhenti. kau pun mungkin tak sungguh-sungguh mendengarku. tapi semuanya tak pernah kusesali…
"rasa seperti ini ragu namanya".
itu kata-kataku yang keluar tiba-tiba. ketika terang bintang mengambang di atas mendung. berlaksa tanya masih menggelembung bagaikan busa. kukira engkau maupun aku tak kan sanggup membuatnya membelah pecah. pun bila ujung jarum runcing itu berulang kali kita tusukkan di permukaannya…
"rasa seperti ini getir namanya".
itu kata-kataku dalam kecewa. buku itu harus ditutup sebelum selesai dibaca. kata-kataku tak harus sempurna kaucerna. tanya tak terjawab harus dibiarkan seperti adanya. dan kuharap kau ingat ini: meski aku dan engkau tak ada, bumi di bawah kita tetap berputar sebagaimana biasa…
——————–
(i choose the sweet life, never knew i’d be bitter than the sweet..)
Dif, kowe saiki dadi tester alias tukang ngrasakke to? Apa sakplokke mbukak kafe kuwi dadi “indra icip2″-nya tambah peka, he..he..
MSR
http://saniroy.wordpress.com
Sani — November 24, 2006 @ 1:15 pm
o…………….ternyata itu kafemu tu mbak
wah bisa dapet diskon
mb tks
aq gak tau kenapa selalu aja pas ama yg lagi kualami
kayaknya kita sehati
intan — November 27, 2006 @ 12:56 am
to: kang sani
indera icip2ku ki ketoke wis dol, kaco yen kon ngrasakke.. mulane njur nulis kabeh kuwi, nggo ‘pengenalan kembali’ ben iso ngicip2 sing bener maneh, gitu lho kang..
contone: ‘merasakan ragu’ = ragu ki rak makanan orang2 di papua kae toh?
hehehe..
difla — November 28, 2006 @ 10:20 am
to: intan
jangan percaya sama kang sani.. itu bukan kafeku.. tapi punyanya kantorku.. aku kan cuma tukang icip2 (lhaa.. kalo utk yg satu ini kang sani bener..)
anyway, emang iya ya.. kayaknya kita emang sehati.. postinganmu juga sering ‘kena’ di aku jhe.. mari kapan2 kita berbicara dari hati ke hati ditemani secangkir kopi..

difla — November 28, 2006 @ 10:24 am
mau doooong ikutan bicara dari hati ke hati ditemani secangkir copy under accountnya cindy :))
Bayik — December 25, 2006 @ 4:57 am
wow!! menu baru??
jadi, apa nama menu baru di momento itu ibu siti?? :p
juice lelakoning raga? hehe
yudhaGbl — January 6, 2007 @ 11:48 am
mulane ada pepatah ‘urip ki mung mampir ngombe’ sama mas nowo ditambahi ‘ngombe sepisan yo golek sing manis!’ (1998, 28)
kalau hidup itu mampir ngombe buat aku sih yang penting bagaimana kita memilih ngombe di mana, dengan siapa dan dibayarri sapa..ya tho
Widya — February 7, 2007 @ 7:48 pm
kalo kita bicara ‘urip ki mung mampir ngombe’
mmmmm……….piye yoh?
ketok e goblog banget
yo nganggo rabi barang to yoh…..ngombe terus neh kembung…..
kowe ki nek potong lanang malah nggantheng je…
koyo liu tek hua…ha..ha..ha.
sugeng — March 25, 2007 @ 12:12 pm