the daisy days of difla






         each color has its own darkness…

August 8, 2006

crossroad

Filed under: gloomy daisy — difla @ 7:31 am

barangkali kita memang pernah
bersilang jalan
bertemu di titik itu
saling bertegur sapa
berkenalan
rehat dan berhenti
melewatkan waktu bersama

lalu kita berangkat lagi
mengambil jalur yang sama
menikmati angin pohon dan hujan
membelai rambut kepala

lalu kita sadar
ternyata jalan bersama
justru membuat kita makin
jauh dari tujuan semula

lalu kita bertengkar
jalur siapa yang lebih baik untuk diambil
tujuan siapa yang lebih baik untuk dicapai
hingga letih
hingga mengerti
tak ada baik-buruk
tak ada kalah-menang

lalu kita lanjutkan
perjalanan masing-masing
dalam sendiri
duka menggigit masihkah berarti?

lalu ujung jalan tak kemana-mana
kita pun kembali bertanya
akankah di depan sana
ada persilangan yang sama?

——————–

(and I believe I’ll walk them all, no matter what I may have planned..)



7 Comments »

  1. ketika persilangan itu adalah sebuah perjuangan, adalah hal yang biasa ketika melahirkan dua kutub yang berbeda. tetapi ketika itu adalah cinta, aduuuuuh….plis deh…ibu siti..:p

      yudhaGbl — August 26, 2006 @ 11:19 am

  2. lho pak yudh iki piye tho..
    bukankah cinta itu sendiri juga mengandung perjuangan..?
    hihihi..

      difla — September 11, 2006 @ 9:33 am

  3. mencintai cuma berarti : memaafkan, memberi dan mengikhlaskan. Yang lainnya hanyalah pernak-pernik emosional jiwa dan kegalauan hati kita.
    Misteri yang tak terpecahkan hingga akhir zaman.

      Anang — November 1, 2006 @ 8:32 pm

  4. ..sayangnya, disadari atau tidak, justru “pernak-pernik emosional jiwa dan kegalauan hati kita” itulah yang lebih terlihat di muka..
    sementara “memaafkan, memberi dan mengikhlaskan” sering terlupa dan tidak dianggap sebagai perwujudan dari apa yang kita namakan “cinta”…

      difla — November 8, 2006 @ 9:51 am

  5. well..

    ada petuah bijak…bawa payung sebelum hujan, lihat jalur sebelum naik bus..ben ra ketemu…

      Widya — November 25, 2006 @ 5:40 pm

  6. ho-oh jeng widya..

    ada lagi satu hal: “lihat wajahnya dengan seksama, apakah dia teman anda?”

    jika kemudian kita mengenalinya sebagai teman kita, maka jawabannya adalah: “ojo dibojo..!”

    :))

      difla — November 28, 2006 @ 10:25 am

  7. oalah……..
    jan kangen tenan ambek awkmu mbak….

      Erni — April 22, 2007 @ 2:49 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment