the daisy days of difla






         each color has its own darkness…

July 22, 2006

perisai tajam

Filed under: friendly daisy — difla @ 5:19 am

pada saatnya nanti
sebilah pisau yang terhunus itu
mungkin akan menikam ulu hatimu

tapi kau takkan berdarah
sebab ribuan anak panah yang berdesing
telah melesat meluncur mendahului

meski menilaskan torehan-torehan kecil
selagi mereka masih erat tertancap
tak ‘kan ada sisa tempat yang tak terselimuti

dan pada saatnya nanti
bersyukulah karena terlidungi
oleh perisai rasa sakitmu sendiri…

———-
(..so, stick to the fight when you’re hardest hit; it’s when things seem worst that you must not quit..)



4 Comments »

  1. Pada akhirnya rasa sakit itu tak akan terasa lagi saat kita percaya bahwa sakit itu hanyalah proses dari sebuah kesembuhan yang harus dilewati.

      maya — July 24, 2006 @ 10:31 pm

  2. Hei, nDhuk….
    Ya, kamu. Kamu yang kecerdasan verbalnya ngedab-edabi.

    Dari halaman ke halaman oret-oretanmu ini….kok aku seperti bisa liat kamu di sini, di sana, sedang ini, sedang itu, sakit ini, ceria itu, berpikir ini, merasa itu, dengan si anu, atau sendiri…..

    Tapi ke mana? Itu yang gak ketemu.

    Mau ke mana kah?
    Badhe tindak pundi menopo?

      Andi — November 24, 2006 @ 3:16 am

  3. (to mbak maya)
    saya setuju banget sama ini: “…sakit itu hanyalah proses dari sebuah kesembuhan yang harus dilewati…”

      difla — November 24, 2006 @ 7:40 am

  4. (to andi)
    iya memang sih.. u’r absolutely right.. some of them represented my footprints during my journey of life.. hehe..
    kemana? gak jelas tuh.. buatku: “it’s not when or where we arrive, it’s taking the journey that counts..”

      difla — November 24, 2006 @ 8:13 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment