jeda
punggungan bukit berbadai kencang. manusia kecil berlangkah ringan hampir tersungkur. tak lekang semangat menyusur tepian kabut ungu kelabu berangin dingin menusuk hampir membeku. puncak berpohon meranggas membuat matahari terlipat dalam senja hingga merahnya menua berjelaga. cahaya yang tinggal sekedip sentuhkan gelisah pada ujung telapak dan jemarinya. sehembus bisik melintas lirih:
"berhentilah"
rumput kering menguning berujung runcing gemersik membangunkan lelahnya. sebelenggu sesal mengepung nafasnya saat tanjakan penuh belukar berbunga jingga dirasanya mengebas oleh sekian ribu ayun jejaknya. sesemakan rata sudah. pula rumputan binasa rebah. pusaran kerikil bertemperasan menampari manik hitam tatapnya. luapkan amarah penuh murka dengan hantaman berlaksa makna:
"berhentilah!"
gamang yang meruang bingkiskan senoktah terang dalam kusut-masai jalinan ragunya. satu demi satu nafas terhisap-terhembus selimutkan rona hangat di keremangan bias lesunya. sebingkai damai mendesir halus, membungkus hening yang menyergap erat dan membebat lekat jernihnya semesta. manusia kecil berujar tanpa suara:
"andai pernah aku duduk sejeda
sebelum fajar merekah terbuka,
barangkali tak ‘kan ada
gentarku menjala purnama.."
——————–
(..rest, if you must, but don’t you quit..!)