makhluk asing dari negeri kenangan
dia berhenti di sudut jalan
memang masih segar dan masih terlihat tegak ketika berdiri.
tapi kemudaannya yang dulu selalu menyertai
sekarang tak begitu terlihat di sosoknya lagi
darah yang mengaliri tubuhnya mestinya masih sesegar kemarin,
(ketika alirannya yang menggelegak seiring
langkah cepat kakinya dan jangkauan jauh lompatannya
memompanya untuk pergi kemanapun dia sukai dan ingini)
tapi kenapa tubuhnya seakan tak punya sisa
tenaga yang mestinya masih banyak dia miliki?
dia tepekur di sudut jalan
wajahnya memang masih halus tak berkeriput
tidak pula terpeta garis-garis halus disana
meski sudut bibirnya kini tebal mengering terbakar
dan matanya makin cekung dalam kehitaman
semangat yang bergolak dalam dirinya
mestinya tidak turun ke titik nadir begitu saja
setelah kemarin cerianya terbaca oleh siapa saja
dan menjalarkan ledakan tawa ke seluruh sudut kota
tapi kenapa kepalanya tertunduk selalu
tak berani menatap ke atas, bahkan menengok ke depan?
dia bergumam lirih kepada
siapapun yang lewat di depannya:
"isi kepalaku seakan telah terlempar
terburai berserakan di tengah jalan
isi dadaku seperti sudah pecah
berhamburan ke segala penjuru lapangan
tak ada waktu lagi bagiku untuk
mengumpulkan serpih-serpih itu
dan memasangnya seperti semula.
ketika semua serpih sepertinya telah terkumpul
selalu saja aku kehabisan waktu.
ketika semua keping sepertinya bisa kembali menyatu
selalu saja aku terlambat tahu.."
ia ingin mencoba mengumpulkan dan menyatukan
semua serpih, remah, keping, dan puing
yang tak pernah berhenti
mengepung dan berlarian berkeliling
tapi ternyata temannya yang bernama "keinginan"
sudah tak pernah menganggapnya ada
ternyata sahabat lamanya yang bernama "harapan"
sudah lama berketetapan untuk meninggalkannya
ternyata saudaranya yang bernama "kerinduan"
cuma inginkan dia jadi kenangan
lalu seonggok kumpulan serpih, remah, keping
dan puing itu berkata lantang kepadanya:
"..akulah kini-mu
akulah nyata-mu
akulah yang setiap hari hidup di sekitarmu
akulah yang senantiasa berjajar mengepungmu
akulah yang selalu menari-nari di sekelilingmu
maka…
hadapilah aku..!!"
sebuah potret kefanaan manusia, dunia dan seisinya. Betapa tak ternilainya setiap detik hidup yang kita lalui sangat terasa ketika kemudaan kita berlalu. Renungan yang suram dan beku namun penuh makna.
Anang — November 1, 2006 @ 8:27 pm
iya mas anang..
kita memang harus banyak berpikir dan menyadari..
bahwa semuanya tidak abadi..
dan perubahan itulah yang harus kita hadapi setiap hari..
difla — November 8, 2006 @ 9:49 am