the daisy days of difla






         each color has its own darkness…

January 18, 2006

anak laki-laki dan matahari

Filed under: friendly daisy — difla @ 8:56 pm

seorang anak laki-laki
bersahabat dengan matahari
bercakap, merenung, menangis
setiap saat sepanjang hari

anak laki-laki dan matahari tak terpisahkan

anak angkat sang matahari
dongeng beribu bintang
tertidur dalam pangkuan
usapan kasih menenangkan

anak laki-laki asuhan matahari berbahagia

seorang anak laki-laki
bianglala dilihatnya kali pertama
cantik elok beragam warna
kagum terpana terpesona

anak laki-laki berkenalan dengan bianglala

anak laki-laki teman bianglala
bertemu selalu bersama-sama
tertawa, bercanda, bergembira
duka derita entah kemana

anak laki-laki melupakan mataharinya

sepotong bianglala mulai bertanya
kenapa tak hanya berdua saja
menuntut semua tak ada sisa
atau pergi selamanya

anak laki-laki memilih bianglala

matahari menangis pergi
berteman awan mendung dan angin
bianglala tak terbit sesudahnya
tanpa matahari dia tak mungkin ada 

anak laki-laki menyesal kecewa 

anak laki-laki mencari matahari
bianglala sembunyi entah dimana
mengaku salah dan alpa
memohon kembali ke dekapannya 

anak laki-laki menangis mendamba 

matahari menerima kembali
tapi tak lagi seorang diri
awan mendung angin mendampinginya
teman sejati dalam pedihnya 

anak laki-laki terduduk merenung nasib 

matahari berbesar hati
anak laki-laki tak lagi diasuhnya
seperti awan mendung dan angin
semua adalah temannya, sejajar setara

anak laki-laki tak
punya ibu lagi..

bianglala tak pernah
datang lagi..

matahari tak pernah
mendongeng lagi..

semua kini tak sama
lagi..



4 Comments »

  1. Haloow MbakYu…
    Entah kenapa, nyimak ‘anak laki-laik dan matahari’ jadi gatel pingin kasi komen. kok kayaknya sedih amat…But, inspiratif menggelitik abis. (wong aku aja sampe kirim komen…:p)

    “Ndak ada yang perlu disesali kok” katakan ke si ‘anak laki2′…
    Tenang aja, matahari ndak pernah bisa berubah kan?! Selalu ada di atas sana, kasih kita enerji buat terus hidup…
    (Yah, kecuali datang malam. mesti gentian shift ma bulan)…
    Kalo ganti sudut pandangnya pasti keliatan lagi kan ?!(dilihat dari belahan bumi yang lain, misalnya…)
    Dengan porsi yang tepat, matahari akan selalu berguna dan tidak berbahaya untuk kesehatan…

    Jadi, optimis lah mbakYu…
    sadar gak sadar, matahari ya pasti ada di situ terus kok.

    Bikin yang baru lagi mbakYu. Yang lebih ceria gitu…
    jadi yang baca juga ikut bersemangat gitu loh… :D
    Pendukung setia nih…
    Ta’tunggu… :) heheheeeeee….

      Dias — February 3, 2006 @ 12:55 am

  2. dear diajeng dias..

    waktu nulis ini niatku pertama kali juga bukan untuk bersedih2 kok.. tapi mbuh yo kok dadine malah memberikan nuansa kesedihan kaya ngene.. hehe..

    emang bener yang dikau bilang itu jeng, gak usah sedih, toh kalaupun kita tdk bisa memiliki sesuatu, hal itu tidaklah selalu berarti kita akan kehilangannya kan?

    ‘memiliki’ pun belum tentu jadi lebih baik artinya.. sepanjang kita masih bisa ‘merasakan kehadiran’ dari sesuatu itu dan kehadirannya memang memberikan hal2 baik kepada kita, kenapa harus bersedih?

    ok deh diajeng.. thanks for your comment.. n maap blum nulis lagi.. msh ’sibuk’.. hihi..

      difla — March 1, 2006 @ 2:37 am

  3. sangat menyentuh..

    ketika kesadaran merasuki anak lelaki itu (bahwa) semua hal akan berubah..
    dan saat dia memilih untuk menghadapi ..
    jadilah anak itu lelaki dewasa.

      grendi — July 7, 2006 @ 10:41 pm

  4. to: grendi
    jadi ingat puisinya rudyard kipling yg judulnya ‘if’..
    semuanya tentang ‘bagaimana menjadi lelaki dewasa’..
    dan diakhiri dengan kata2 yang sangat saya suka:
    “Yours is the Earth and everything that’s in it,
    And - which is more - you’ll be a Man, my son!”

      difla — November 8, 2006 @ 9:37 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment