the daisy days of difla






         each color has its own darkness…

January 19, 2006

jagad kecil sang gadis kecil

Filed under: friendly daisy — difla @ 9:55 pm

lihat bunda!
ada bianglala!
(suara kecil memekik gembira, rona merah cerah terhias di wajah, senyum lebar ceria membuka tawa, mata memicing menyipit, pandangi separuh bundaran berwarna di langit)

gadis kecil di jagad kecil melihat keindahan lewat wajah bundanya

lihat bunda!
ada candik ayu!
(suara kecil di sore hari, wajah berseri cerminan hati, senyum tipis tersungging di senja kuning,
mata melebar melihat terang di awang, selepas matahari berpijar sehari)

gadis kecil di jagad kecil merasakan kecantikan lewat mata bundanya

lihat bunda!
ada bintang jatuh!
(suara kecil di malam sunyi, gelap membayang di wajah bening, mulut terbuka takjub terpana, mata membelalak mengekor pendar lesat cahaya, pindahan bintang di angkasa)

gadis kecil di jagad kecil menyaksikan keajaiban lewat senyum bundanya

lihat ananda!
ada mendung!
(suara wanita halus mengelus, lembut tangannya membelai kepala, senyum damai biaskan tenteram, membawa ketenangan pada wajah mungil sedih di sampingnya)

gadis kecil di jagad kecil menyesap kesedihan dalam belaian bundanya

lihat ananda!
ada angin!
(suara wanita tegas mengeras, lengan hangat pelindung hembusan dingin, rengkuhan dalam penuh pengertian, membuang cemas dari tubuh mungil yang didekapnya)

gadis kecil di jagad kecil menepis kecemasan dalam dekapan bundanya

lihat ananda!
ada kilat!
(suara wanita tegar sedikit menggelegar, jari ramping menunjuk ke samping, degup memburu lebur di dada, sosok mungil ketakutan tersembunyi dalam pelukannya)

gadis kecil di jagad kecil membuang ketakutan dalam pelukan bundanya

(bersama bunda)
gadis kecil di jagad kecil
teriaknya melengking lantang bergema:

"aku tidak takut datang, dunia!"

pergi kembali

Filed under: gloomy daisy — difla @ 8:56 pm

dua menara pelabuhan tua
tegak bertahan
tinggal runtuhan
sekejap hadirmu kurasa
hangat menyapa

langit bersih biru tua
tanpa awan
tiada mega
sesaat sosokmu kulihat
datang menyelinap

tiang layar ratusan kapal
tertiup angin
berdenting bersentuhan
sesekali bisikmu kudengar
lirih memanggil

rumpun hijau semak rosemary
harum rempah
segar wangi
sedetik semerbakmu kutengarai
membuatku ingin kembali..

——————–

(remembering some sparkling mem’ries of the one i left behind; la rochelle, 17 september 2005)

January 18, 2006

anak laki-laki dan matahari

Filed under: friendly daisy — difla @ 8:56 pm

seorang anak laki-laki
bersahabat dengan matahari
bercakap, merenung, menangis
setiap saat sepanjang hari

anak laki-laki dan matahari tak terpisahkan

anak angkat sang matahari
dongeng beribu bintang
tertidur dalam pangkuan
usapan kasih menenangkan

anak laki-laki asuhan matahari berbahagia

seorang anak laki-laki
bianglala dilihatnya kali pertama
cantik elok beragam warna
kagum terpana terpesona

anak laki-laki berkenalan dengan bianglala

anak laki-laki teman bianglala
bertemu selalu bersama-sama
tertawa, bercanda, bergembira
duka derita entah kemana

anak laki-laki melupakan mataharinya

sepotong bianglala mulai bertanya
kenapa tak hanya berdua saja
menuntut semua tak ada sisa
atau pergi selamanya

anak laki-laki memilih bianglala

matahari menangis pergi
berteman awan mendung dan angin
bianglala tak terbit sesudahnya
tanpa matahari dia tak mungkin ada 

anak laki-laki menyesal kecewa 

anak laki-laki mencari matahari
bianglala sembunyi entah dimana
mengaku salah dan alpa
memohon kembali ke dekapannya 

anak laki-laki menangis mendamba 

matahari menerima kembali
tapi tak lagi seorang diri
awan mendung angin mendampinginya
teman sejati dalam pedihnya 

anak laki-laki terduduk merenung nasib 

matahari berbesar hati
anak laki-laki tak lagi diasuhnya
seperti awan mendung dan angin
semua adalah temannya, sejajar setara

anak laki-laki tak
punya ibu lagi..

bianglala tak pernah
datang lagi..

matahari tak pernah
mendongeng lagi..

semua kini tak sama
lagi..

January 9, 2006

lempuyangan, setiap sore

Filed under: friendly daisy — difla @ 4:29 am

berkumpul mereka,
hidung bangir bibir merekah
silikon cair menempel resah
derak kereta bagaikan berkah
gerbong mendekat hilangkan gundah

berhias mereka,
bedak tebal meblok-meblok
lipstik murah merah mencolok
dandanan menor baurkan sosok
belitan kain jalan terseok

beraksi mereka,
suara parau jeritkan lagu
musik seadanya mengiring kelu
kerincing uang logam lirih beradu
berapapun didapat, tersenyum malu-malu

berjuang mereka,
menelan ejekan segala rupa
tak nampak malu sepanjang masa
berharap pulang tanpa dicela
demi nafkah entah untuk siapa

akan bertahankah mereka
dalam belantara kota kejam durjana?
di tengah ucapan keji menghina?
dalam geliat aib mendera?
di antara arus deras menerpa?

tapi..  kalau tidak bisa,
mau kerja apa mereka..?

——————–
(for "laura", whenever i may find them..)

January 8, 2006

a story of “kmb”

Filed under: friendly daisy — difla @ 11:23 pm

dalam gubug kecil sederhana
becek, jelek, rimbun belukar
dalam kereta panas gerah
bau pesing dan keringat
dalam deru bis kota
asap knalpot kelabu pekat
ia temukan dunianya
yang lekat dengan cinta

dalam riuh gemuruh kota
selalu sibuk hiruk-pikuk
dalam gedung indah megah
menjulang mencakar mega
dalam kelebat busana mewah
wajah-wajah tampan cantik jelita
tergetar goyah dunianya
tercemar sudah peluh asanya

dalam rumah besar dan indah
seluruh penjuru bukan miliknya
dalam kamar penuh airmata
seluruh ruang sepi adanya
dalam nyala lilin di meja
seluruh hidangan hambar terasa
runtuh sudah dunianya
hancur terhempas diguncang prahara

dalam lelah kerja pelariannya
untuk membunuh waktu tersisa
dalam riuh malam berwarna
yang terbitkan beragam citra
dalam cerita tiada jeda
untuk lupakan deraan lara
dunia baru datang menggoda
pesonanya mendekap segala asa

dalam hujan menetes bocor
gubug kumuh pinggiran kali
akankah kembali indah dunia
dengan bahagia yang seadanya?
akankah kembali utuh dunia
dengan harapan yang bersahaja?
akankah kembali tegak dunia
dengan dambaan yang sederhana?

——————–
(for all "kmb", anywhere in the world..)