the daisy days of difla






         each color has its own darkness…

November 24, 2005

selembar kertas pada sepotong pagi

Filed under: cheery daisy — difla @ 5:27 am

aha!
sepotong pagi yang baru saja kujumpai membawa sejuk tetesan embun yang tercerai-berai di tangga beranda. belum tinggi matahari memanjat angkasa. belum kering juga percik embun yang tinggal sisa-sisa. bau rerumputan dan bunga liar menyeruak diantara sepi yang telah mengental di tempat ini. ada kesegaran menyapa di hari yang baru dimulai. aku bertanya dalam hati: kenapa di tempat ini aku tak pernah melihat pagi?

aha!
selembar kertas putih bersih kutemukan di lantai beranda. tak bercacat tak bercela. tak sedikitpun ada coretan atau sketsa terpeta disana. darimana datangnya kertas ini? lagi-lagi aku bertanya dalam hati. aku mengambil dan membaliknya, tetap tak ada tanda apapun yang bisa menceritakan dari mana asalnya. kubiarkan kertas itu tergeletak disana, tetap bersih tak bernoda.

aha!
secangkir kopi terhidang di meja beranda. panas mengepul berasap menggoda. aromanya yang harum dan segar membawa gairah yang sepertinya tak pernah lagi kurasakan setelah sekian lama. aku tertegun dan kembali bertanya: sudah sedemikian lamanya kah aku terkurung di dalam ruang tak berpintu jendela ini? kenapa selama ini aku tak ingin keluar dari himpitan sunyi yang memenjarakan diri?

aha!
sebuah kereta berjalan melewati jalur di depan beranda. keletak ladam dua ekor kuda yang berpadu dengan derit roda-rodanya memecah hening yang telah lama melekat di segenap penjuru tempat ini. kuda itu meringkik kecil, bagaikan salam pagi yang membawa kehidupan kembali. tak bisa kucegah tanya yang bergaung lagi: sudah berapa kali dia melewati jalur itu tanpa pernah kusadari?

aha!
aku tak mau tertidur lagi, karena semua mimpi indah itu kini tak pernah datang menghampiri. aku tak mau terkurung lagi, karena ruang tempat aku bebas bernapas kini makin terasa sempit menghimpit. aku tak mau terpuruk disini, karena setiap hari ada kereta yang bisa kutumpangi dan membawaku ke tempat manapun yang kuingini. aku akan mengawali hari bagai kertas putih yang kutemukan tadi. polos dan suci, seakan menanti sentuhan tangan yang akan menggoreskan banyak cerita baru lagi..

——————-
(today is my moment, and right now is my story.. i’ll laugh, and i’ll cry, and i’ll sing..)



2 Comments »

  1. surprised really!!! geneyo kowe isoh wewidangan kaya ngono nok? hwarakadah, sajak surem surem diwangkara uripmu ya. santai wae man, begitu temanku sering berkata enteng. hey, life goes on, no matter what. take it or be die… piye horo?

      Ponco — December 25, 2005 @ 12:37 am

  2. eyang chonk kinasih, “eyang”-ku satu2nya in the whole world..
    maap kalo tulisan2ku “peteng ndhedhet” kaya ngene.. tapi njenengan dhewe rak ya ngerti ta, nalika awake dhewe isih bebarengan urip ana ing “pojok lor” kae, menawa uripku iku wis kulina rekasa..? hehe.. thanks for this quote: “life goes on, no matter what. take it or be die..” it inspires me a lot!

      difla — January 10, 2006 @ 3:56 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment