sebuah perhentian di kebun pandan
endut,
bunga mawar kuning itu sudah mati
ketika aku pergi dan kamu tak ada
teman yang kuminta merawatnya
lebih suka memelihara tanamannya sendiri
dia tak mau memupuk atau menyiram
dia tak peduli ketika hama datang
ketika daunnya memutih dan berlubang
hingga ketika helai mahkotanya berguguran
endut,
api di tungku itu telah padam kini
ketika aku pergi dan kamu tak ada
teman yang kuminta menjaganya
lebih suka mengurusi tungkunya sendiri
dia tak peduli ketika nyalanya mengecil
dibiarkannya bara merah itu mendingin
lalu arangnya lebur jadi abu semua
dan hangatnya pun habis tak bersisa
endut,
ketika mawar itu mati dan tungku itu padam
disinilah malam ini kita berdua berada
dalam kebun pandan luas dan dingin
tanpa hangat tungku atau nyala api
cuma sebatang lilin yang menemani
kalau lilin itu habis dan padam apinya
kalau wangi pandan itu hilang karena angin membawanya
tolong bangunkan aku segera..
——————-
(now that you’re gone, i’m trying to take it, learning to swallow the rage..)
kok tante difla manggil nama bapakku sih…!!!???
SaBiQa — May 19, 2008 @ 12:19 am