the daisy days of difla






         each color has its own darkness…

November 22, 2005

negeri dahaga

Filed under: gloomy daisy — difla @ 5:36 am

sebotol air telah kuhabiskan dalam perjalanan yang membuat letihku tak pernah punya tempat bersandar. detak jantung yang tak lagi hening di dalam dada, menyentak terburai dalam nafas yang masih tersisa. batang pohon palma terakhir yang ada di depan mata membuat kekeringan makin tampak nyata. pasir dan kerikil dimana-mana. tandus dan hampa. aroma kematian yang kental menusuk, memanggil burung-burung nasar yang lapar terbang berputar-putar. dalam haus yang tak terkira, ternyata tanpa kusangka telah kumasuki negeri dahaga..

compang-camping jubah yang melekat oleh keringat menyisakan sengatan panas yang membakar perih di kulit hangusku. dan ketika senja mulai hilang, kejamnya malam yang berkunjung dalam dinginnya langit terbuka tanpa awan telah pula menerobos lewat cabikan-cabikannya, meninggalkan gigitan beku yang hunjamkan beribu ngilu ke dalam sumsum tulangku. dimanakah salib selatan ketika itu? bahkan ketika tak satupun ada gugusan mega menutup angkasa, tak kulihat sekerdip bintang yang bisa kujadikan pemandu untuk membawa tubuh ausku..

sepanjang malam yang gelap gulita, hempasan angin gurun menderakan rintihan suara gundah gulana. tak kutengarai darimana arah datangnya, karena semuanya telah baur dan bias oleh bisikan menggelegar suara-suara asing dari dalam diriku. jeritannya menguasai seluruh pendengaranku, riuh rendah menggedor-gedor gendang telingaku. kutunggu datangnya embun yang kan jatuh di dini hari. kunanti datangnya fajar yang seharusnya merekah setiap pagi. kemana mereka kini? kenapa tak kunjung pergi kelam ini? kenapa tak jua datang sang dini dan pagi hari?

gelap yang membayangiku adalah karenamu. sengatan panas yang membakarku dan gigitan dingin yang menusukku adalah karenamu. segala silang sengketa yang terjalin menyatu adalah karena aku mencarimu. habis sudah semuanya. kalau pernah ada orang bijak berkata: "tak ada kalah-menang dan tak ada pemenang-pecundang", bagimu semua tak pernah ada. yang kutahu barangkali pesanku belum sempat kaubaca, mungkin bahkan tak sempat kauterima. ternyata kemenangan untukmu adalah segalanya. dan pembalasan bagimu adalah raja..

kutinggalkan negerimu yang kini tak lagi mengenal pagi. kuseret compang-camping dan cabikan-cabikan kelu yang senantiasa tersandang di bahuku. tak ada gunanya mencari yang meninggalkanku pergi. tak ada artinya memberi kepada yang tak mau menerima kembali. bagimu tak ada harganya langkahku mendekati, karena kau pasti akan segera berlari menjauh lagi. negeri hijaumu yang kucari, negeri dahaga lah yang kudapati. pedulimu yang aku nanti, hempasan menjauh punggungmu yang kauberi.

tak akan kucari cerah pagimu lagi

aku harus mencari

matahariku sendiri

——————–

(people said, "it ain’t freezin’!"; what’s they know? they didn’t watch you go..)



No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment