blue at fontainebleau
fontainebleau ketika itu
bukan hutan tempat para raja mengejar buruannya
tapi tempat pohon willow, walnut, ceddar dan oak
menyapa dalam gigitan dingin udara senja
(dan membuatku merapat pada mimpi hangatmu)
fontainebleau ketika itu
bukan puri tempat pangeran dan puteri berdansa
tapi tempat cassiopeia pertama kulihat di langit utara
redup tak setara berbanding beruang besar di sisinya
(dan membuatku mencari terang pemandu kepadamu)
fontainebleau ketika itu
bukan jalan setapak tempat anjing raja dilepaskan
tapi tempat berjalur bagai labirin menyesatkan
rumit berbelit, berkelok, dan bersimpangan
(dan membuatku mencoba menemukan jauh jejakmu)
dan di fontainebleau ketika itu
kala hangatmu tak ada,
kaulah yang menemani dalam dinginku
kala terangmu tak ada,
kaulah yang menemani dalam gelapku
kala jejakmu tak ada,
kaulah yang menemani dalam tersesatku
———-
(the pathways of fontainebleau had been leading me back to you..)
fontainebleau…d most sacred feeling ever. u got to be there to feel it urself, if you have one. i did and it also took me back to your traces. hate to say it but when it’s gone then its’s gone. and i’m gone too… selamat hari minggu nok. (banda, dec 25)
Ponco — December 25, 2005 @ 12:45 am
hmm.. u’r right eyang!
while i walked along the pathways of fontainebleau forest (bois le roi), it really was the most sacred feeling ever! feelings of “lost but found”, “cold but warm”, and “alone but not lonely”.. pokokmen unbelievable deh..
kapan ya isa mlaku2 neng alas ro njenengan? dadi eling pas neng kalipancur karo “eyang putri” kae je.. hehe..
difla — January 10, 2006 @ 8:01 am