aha!
sepotong pagi yang baru saja kujumpai membawa sejuk tetesan embun yang tercerai-berai di tangga beranda. belum tinggi matahari memanjat angkasa. belum kering juga percik embun yang tinggal sisa-sisa. bau rerumputan dan bunga liar menyeruak diantara sepi yang telah mengental di tempat ini. ada kesegaran menyapa di hari yang baru dimulai. aku bertanya dalam hati: kenapa di tempat ini aku tak pernah melihat pagi?
aha!
selembar kertas putih bersih kutemukan di lantai beranda. tak bercacat tak bercela. tak sedikitpun ada coretan atau sketsa terpeta disana. darimana datangnya kertas ini? lagi-lagi aku bertanya dalam hati. aku mengambil dan membaliknya, tetap tak ada tanda apapun yang bisa menceritakan dari mana asalnya. kubiarkan kertas itu tergeletak disana, tetap bersih tak bernoda.
aha!
secangkir kopi terhidang di meja beranda. panas mengepul berasap menggoda. aromanya yang harum dan segar membawa gairah yang sepertinya tak pernah lagi kurasakan setelah sekian lama. aku tertegun dan kembali bertanya: sudah sedemikian lamanya kah aku terkurung di dalam ruang tak berpintu jendela ini? kenapa selama ini aku tak ingin keluar dari himpitan sunyi yang memenjarakan diri?
aha!
sebuah kereta berjalan melewati jalur di depan beranda. keletak ladam dua ekor kuda yang berpadu dengan derit roda-rodanya memecah hening yang telah lama melekat di segenap penjuru tempat ini. kuda itu meringkik kecil, bagaikan salam pagi yang membawa kehidupan kembali. tak bisa kucegah tanya yang bergaung lagi: sudah berapa kali dia melewati jalur itu tanpa pernah kusadari?
aha!
aku tak mau tertidur lagi, karena semua mimpi indah itu kini tak pernah datang menghampiri. aku tak mau terkurung lagi, karena ruang tempat aku bebas bernapas kini makin terasa sempit menghimpit. aku tak mau terpuruk disini, karena setiap hari ada kereta yang bisa kutumpangi dan membawaku ke tempat manapun yang kuingini. aku akan mengawali hari bagai kertas putih yang kutemukan tadi. polos dan suci, seakan menanti sentuhan tangan yang akan menggoreskan banyak cerita baru lagi..
——————-
(today is my moment, and right now is my story.. i’ll laugh, and i’ll cry, and i’ll sing..)
sebotol air telah kuhabiskan dalam perjalanan yang membuat letihku tak pernah punya tempat bersandar. detak jantung yang tak lagi hening di dalam dada, menyentak terburai dalam nafas yang masih tersisa. batang pohon palma terakhir yang ada di depan mata membuat kekeringan makin tampak nyata. pasir dan kerikil dimana-mana. tandus dan hampa. aroma kematian yang kental menusuk, memanggil burung-burung nasar yang lapar terbang berputar-putar. dalam haus yang tak terkira, ternyata tanpa kusangka telah kumasuki negeri dahaga..
compang-camping jubah yang melekat oleh keringat menyisakan sengatan panas yang membakar perih di kulit hangusku. dan ketika senja mulai hilang, kejamnya malam yang berkunjung dalam dinginnya langit terbuka tanpa awan telah pula menerobos lewat cabikan-cabikannya, meninggalkan gigitan beku yang hunjamkan beribu ngilu ke dalam sumsum tulangku. dimanakah salib selatan ketika itu? bahkan ketika tak satupun ada gugusan mega menutup angkasa, tak kulihat sekerdip bintang yang bisa kujadikan pemandu untuk membawa tubuh ausku..
sepanjang malam yang gelap gulita, hempasan angin gurun menderakan rintihan suara gundah gulana. tak kutengarai darimana arah datangnya, karena semuanya telah baur dan bias oleh bisikan menggelegar suara-suara asing dari dalam diriku. jeritannya menguasai seluruh pendengaranku, riuh rendah menggedor-gedor gendang telingaku. kutunggu datangnya embun yang kan jatuh di dini hari. kunanti datangnya fajar yang seharusnya merekah setiap pagi. kemana mereka kini? kenapa tak kunjung pergi kelam ini? kenapa tak jua datang sang dini dan pagi hari?
gelap yang membayangiku adalah karenamu. sengatan panas yang membakarku dan gigitan dingin yang menusukku adalah karenamu. segala silang sengketa yang terjalin menyatu adalah karena aku mencarimu. habis sudah semuanya. kalau pernah ada orang bijak berkata: "tak ada kalah-menang dan tak ada pemenang-pecundang", bagimu semua tak pernah ada. yang kutahu barangkali pesanku belum sempat kaubaca, mungkin bahkan tak sempat kauterima. ternyata kemenangan untukmu adalah segalanya. dan pembalasan bagimu adalah raja..
kutinggalkan negerimu yang kini tak lagi mengenal pagi. kuseret compang-camping dan cabikan-cabikan kelu yang senantiasa tersandang di bahuku. tak ada gunanya mencari yang meninggalkanku pergi. tak ada artinya memberi kepada yang tak mau menerima kembali. bagimu tak ada harganya langkahku mendekati, karena kau pasti akan segera berlari menjauh lagi. negeri hijaumu yang kucari, negeri dahaga lah yang kudapati. pedulimu yang aku nanti, hempasan menjauh punggungmu yang kauberi.
tak akan kucari cerah pagimu lagi
aku harus mencari
matahariku sendiri
——————–
(people said, "it ain’t freezin’!"; what’s they know? they didn’t watch you go..)
endut,
bunga mawar kuning itu sudah mati
ketika aku pergi dan kamu tak ada
teman yang kuminta merawatnya
lebih suka memelihara tanamannya sendiri
dia tak mau memupuk atau menyiram
dia tak peduli ketika hama datang
ketika daunnya memutih dan berlubang
hingga ketika helai mahkotanya berguguran
endut,
api di tungku itu telah padam kini
ketika aku pergi dan kamu tak ada
teman yang kuminta menjaganya
lebih suka mengurusi tungkunya sendiri
dia tak peduli ketika nyalanya mengecil
dibiarkannya bara merah itu mendingin
lalu arangnya lebur jadi abu semua
dan hangatnya pun habis tak bersisa
endut,
ketika mawar itu mati dan tungku itu padam
disinilah malam ini kita berdua berada
dalam kebun pandan luas dan dingin
tanpa hangat tungku atau nyala api
cuma sebatang lilin yang menemani
kalau lilin itu habis dan padam apinya
kalau wangi pandan itu hilang karena angin membawanya
tolong bangunkan aku segera..
——————-
(now that you’re gone, i’m trying to take it, learning to swallow the rage..)
bulan itu bungur sedang berbunga
warnanya yang ceria merah muda
tersapu angin bertebaran kemana-mana
hingga ke bangku beton dekat pohon cemara
bulan ini bungur juga sedang berbunga
sepanjang jalan pasti kan banyak kaujumpa
ada warna ungu yang sendu menyela
diantara hijau daun-daunnya
bungur merah muda di bangku beton kita
pernah membawa sekelumit bahagia
do’akanlah ungu yang sekarang ada
tak kan ijinkan duka datang menerpa..
——————–
(for my schoolmates, remembering our old -happy- days..)
fontainebleau ketika itu
bukan hutan tempat para raja mengejar buruannya
tapi tempat pohon willow, walnut, ceddar dan oak
menyapa dalam gigitan dingin udara senja
(dan membuatku merapat pada mimpi hangatmu)
fontainebleau ketika itu
bukan puri tempat pangeran dan puteri berdansa
tapi tempat cassiopeia pertama kulihat di langit utara
redup tak setara berbanding beruang besar di sisinya
(dan membuatku mencari terang pemandu kepadamu)
fontainebleau ketika itu
bukan jalan setapak tempat anjing raja dilepaskan
tapi tempat berjalur bagai labirin menyesatkan
rumit berbelit, berkelok, dan bersimpangan
(dan membuatku mencoba menemukan jauh jejakmu)
dan di fontainebleau ketika itu
kala hangatmu tak ada,
kaulah yang menemani dalam dinginku
kala terangmu tak ada,
kaulah yang menemani dalam gelapku
kala jejakmu tak ada,
kaulah yang menemani dalam tersesatku
———-
(the pathways of fontainebleau had been leading me back to you..)
tak ada tarian bidadari di mimpiku lagi
mereka terbang tinggi menyusuri tepian pelangi
menyusul para malaikat yang telah lebih dulu berangkat
menuju langit kedelapan untuk bermain di lautan awan
tak ada nyanyian peri di mimpiku lagi
suara mereka melirih larut terbitkan perih
harpa yang mereka bawa tak bisa lagi deraskan do’a
dan sepi yang tersisa tak jua berhenti goreskan lara
tak ada wajah dewa-dewi di mimpiku lagi
tampan dan elok rona bercahaya itu perlahan sirna
tersaput kelabu mendung yang turun bergulung
kelamnya menodai wajah-wajah mereka yang tanpa dosa
biarlah tak satupun mimpi datang menghampiri
biarlah hari yang menjelang membeliakkan jendela hati
meski sendiri tanpa bidadari, peri, dan dewa dewi
di muka bumi, ternyata aku masih bisa tegak berdiri
———-
(i thought i saw my heaven. now my heaven’s gone away, i’m here out in the cold, but still standing..)