point of no return
kuletakkan semuanya di atas meja
biar semua kartuku terbuka
biar kau tahu, di tanganku aku punya apa
dalam penggalan hidup yang telah kita jelang
tak penting lagi siapa pemenang siapa pecundang
kata seorang bijak: dalam perkasihan tak boleh ada kalah dan menang..
kumulai satu patah kata
biar terungkap semua dusta
biar kau sadar, aku masih sosok yang sama
cuma seonggok kotoran yang kaupungut dari selokan
bukan mutiara di lumpur yang ‘kan berkilau oleh asahan
katamu: ketaktahudirianku adalah kesalahan berujung penyesalan..
kuberikan semua pasrah dan rela
biar seluruhku kaugenggam sempurna
biar aku ingat, tanpamu aku tiada
hanya serumpun belukar tajam yang hidup di tengah rimba
tak mungkin jadi semak bunga elok yang penuh warna
kataku: kalau duriku menusukmu, aku takkan berhenti mencoba melunakkannya..
———-
(you’ve helped me hold on, you have a heart like an open door..)
karakter puisimu sangat jelas yaitu ada rasa dan nilai renungan,lumyan banget, dalem juga.
coba buat dengan bait yang pendek, pasti bagus,bisa bisa jadi lirik lagu, hehehhe
salam
budi
Budi — November 4, 2005 @ 8:31 am
dear budi..
bait pendek..? kayaknya akhir2 ini aku emang lagi hobi nulis panjang2 ya? iya deh, kapan2 aku coba nulis yg pendek2.. kalo soal dibikin lagu.. itu urusanmu nyariin orang yg mau mbikinin.. hehe..
thanks atas komentarnya..
(semoga komentar itu keluar bukan karena dirimu nulisnya pas kita lagi minum sparkling wine vouvray bareng2 di sini kemarin ya..
difla — November 8, 2005 @ 11:21 am