the daisy days of difla






         each color has its own darkness…

August 31, 2005

in the death of the night

Filed under: gloomy daisy — difla @ 3:47 am

dan terbitlah malam oleh kilau senja yang menghilang
sesaat kulihat merahmu memberiku warna dalam kegelapan
letih oleh keinginan, jernih karena kemurnian
namun tak mungkin kubiarkan beningmu mengeruh dalam kepura-puraan

dan terbangunlah malam oleh bulan yang mengambang
sesaat kutengarai redupmu menerangiku dalam kekelaman
pekat oleh kegetiran, indah karena kebersahajaan
namun tak ingin kubiarkan kerdipmu memijar dalam buaian

dan terdekaplah malam oleh mendung yang menerawang
sesaat kukenali isyaratmu menyapaku dalam kegundahan
sesak oleh kebahagiaan, pedih karena ketidakpastian
namun tak pernah kubiarkan nyalamu padam dalam kesepian

dan terkuburlah malam oleh fajar yang menjelang
sesaat kutemui sebuah ketiadaan yang menyakitkan
penat oleh kepelikan, mengabur karena penerimaan
namun tak akan kubiarkan dirimu melunglai dalam kesendirian

———-
(..something to remind you.. you once were my midnight, my talk, and my song; but -i am sorry- finally i found that all about us were wrong..)

August 29, 2005

a mournin’ elegy

Filed under: gloomy daisy — difla @ 5:04 am

kan kurengkuh sendirimu dalam sepiku
karena aku yang kaukenal adalah semu
bukan aku yang kamu mau
bahkan bukan aku yang aku mau

kan kutemani heningmu dalam diamku
karena aku cuma punya senandung bisu
tidak bisa menyuarakan hasratku
apalagi meneriakkan inginku

kan kusentuh bimbangmu dalam raguku
karena resah gelisah itu makin memburu
membaurkan arah yang kutuju
dan membuat gamang setiap langkahku

kan kubasuh perihmu dalam pedihku
karena aku sama tersakitinya sepertimu
tak mungkin sembuh oleh waktu
tidak pula oleh hadirmu

kan kupeluk sedihmu dalam dukaku
karena tak mungkin kubagi bebanku
dan tak kan ada lagi luruh air mataku
pun tidak di haribaanmu…

———-
(..how can i forget all that has been? if only we could still be friends, we’ve suffered enough..)

August 28, 2005

dari waktu ke waktu

Filed under: gloomy daisy — difla @ 3:29 pm

dari waktu ke waktu adalah pahatan
pada pokok kayu segar yang baru ditebang
ukiran halus bisa kausentuhkan di permukaannya
bisa pula kaubuat takikan yang tak berguna

dari waktu ke waktu adalah lukisan
pada kanvas polos putih yang tak bercela
kau bisa membuatnya jadi gambar berwarna cerah
atau sekedar coretkan resah yang tak berkisah

dari waktu ke waktu adalah nyanyian
yang memecah keheningan dalam diam
senandung lembut menghanyut bisa kauciptakan
atau cuma teriak serak yang keluar dari kerongkongan

dan dari waktu ke waktu bersamamu
adalah sebatang kayu dengan pahatan yang tak sempurna
adalah sebingkai gambar dengan tumpahan cat dimana-mana
adalah sebuah lagu yang tak pernah selesai melodinya

tapi setidaknya kita sadar sepenuhnya
dari waktu ke waktu kita membuatnya bersama-sama..

———-
(..it’s not when or where we arrive. it’s taking the journey that counts..)

saat rehat siang itu..

Filed under: gloomy daisy — difla @ 3:13 pm

sejak punggungmu berlalu dari hadapanku di malam dingin berkabut itu, aku selalu berusaha mencari sisa-sisa hadirmu di ruang sepiku. remah-remah kenangan yang masih bisa kukumpulkan akhirnya mengantarkan aku pada sebuah jalur di rerumputan.

di ujung jalur itu ada rumah tua dengan kursi kayu yang tergeletak begitu saja di berandanya. secarik kertas tertempel seadanya pada sandaran yang lapuk mengerja. aku berhenti, duduk meluruskan kaki lalu mengamatinya. ada sebuah peta, tertulis dengan pensil tipis, nyaris tak terbaca.

kubawa kakiku menelusuri jejak demi jejak yang di sana-sini terputus, hingga kutemukan lagi tanda lain yang membuatnya menerus. tidak ingin aku berhenti memacu langkahku sebelum kutemukan satu titik baru yang kuyakini akan membawaku kepadamu.

tengah hari mulai menjelang. sudah tak ada lagi rumput ilalang. tak ada daun kering gugur luruh atau derak ranting jatuh dari pohon meranggas kerontang. aku tersesat di tengah padang terbuka. kosong dan hampa. cuma debu dan kerikil terserak di mana-mana.

tapi panas lembab cuaca tak membuatku jera. terus kucari pertanda, barangkali masih ada jejak yang tak kasat mata, atau angin yang berbisik tanpa suara. tapi semakin aku berusaha, semakin tiada hasilnya. salahkah petanya? ataukah yang salah adalah caraku membacanya?

pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan membuat kelopak mataku berat oleh kebimbangan. dalam lelapku yang pasrah, aku menyerah. kau kan kulepaskan bila memang itu sebuah jawaban. pergimu kan kubiarkan kalau memang dambamu adalah kebebasan. tanpamu aku harus tetap bertahan.

dalam lelap pasrah saat rehat siangku
tiba-tiba kukenali pertanda itu
pada harum bau tetesan air yang masih baru
dari hujan pertama yang jatuh ke tanah berdebu
kutemukan kau di situ

———-
(for my nowhere man, whenever i may find him..)

August 26, 2005

that one little young bird

Filed under: gloomy daisy — difla @ 5:52 pm

tak usah kaukuatirkan burung kecil yang basah sayapnya itu. jangan kaujemur dia di bawah terik siang, nanti dia malah terpanggang. biarkan saja bulunya mengering dengan sendirinya. kalau waktunya telah datang, bulu-bulu halus kering dan ringan itu akan membawanya melayang-layang.

tak usah kaukuatirkan burung kecil yang belum bisa terbang itu. jangan kaupaksa dia menelan pelajaran yang terlalu susah, nanti dia akan berkeluh kesah. biarkan saja dia belajar sesukanya. kalau memang sudah waktunya, dia akan melatih dirinya sendiri hingga dia bisa terbang keluar dari sarangnya.

tak usah kaukuatirkan burung muda yang mulai bisa berkelana itu. jangan kaukurung dia dalam kandang berjeruji besi, nanti dia malah melarikan diri. biarkan dia menjelajah kemana dia suka. kalau dia sudah kenal dunia kecilnya, lama-lama dia pasti tahu jalan pulangnya.

tak usah kaukuatirkan burung muda yang ingin pergi itu. jangan kaucegah keberangkatannya, nanti dia akan berontak juga. biarkan dia mencari sendiri tempat tinggalnya, yang paling nyaman dimana dia ingin berada. kalau saatnya telah tiba, ingatlah bahwa kau harus siap melepaskannya.

kapan kau akan mengerti, bahwa aku bukan lagi burung kecil yang harus selalu kaulindungi?
kapan kau akan memahami, bahwa aku juga bukan burung muda yang harus selalu kauawasi?

———-
(would you like to be the wind beneath my wings..?)

August 25, 2005

kini dan nanti

Filed under: gloomy daisy — difla @ 1:29 am

ketika aku masih sekuat ini
mungkin tak terbersit di kepalamu
bahwa beberapa tahun lagi
aku tak kan mampu berjalan sepanjang tepian kali
atau sekedar duduk minum kopi bersamamu sampai pagi

ketika aku masih seriang ini
mungkin tak terpikirkan bagimu
kalau suatu hari nanti
aku tak bisa lagi seenaknya mengumpat dan tertawa
atau meminum sebotol anggur hingga tandas tak bersisa

ketika aku masih semuda ini
mungkin tak terbayangkan olehmu
bila saatnya tiba nanti
aku bukan lagi penjelajah yang biasa pergi seorang diri
atau pencerita yang biasa berceloteh semalam tanpa henti

kalau aku tua nanti
akankah kau tetap setia berdiri
menungguiku merajut selimut dan kaus kaki?
masihkah kau bersedia duduk menemani
dan mendengarkan keluh kesahku sepanjang hari?

kalau aku lebih dulu mati
maukah kau tetap mendampingi
hingga tubuhku ditanam menyatu dengan bumi?
maukah kau menjenguk kuburku setiap hari
dan membawakan setangkai daisy?

maukah kau..?

———-

(..between tomorrow and today, there is a bridge across forever..)

August 22, 2005

just a soupçon

Filed under: gloomy daisy — difla @ 6:40 am

kan kuceritakan kepadamu tentang cahaya
yang membiaskan kilaunya dalam gulita
temaramnya tak pernah menebar warna
karena pendarnya memang cuma sekedip mata

kan kuceritakan kepadamu tentang lagu
yang memecah sunyi dalam perjalanan bisu
tiada nyaringnya kan mengganggu
karena bisiknya memang hanya sehalus bulu

kan kuceritakan kepadamu tentang udara
yang menghangat kala pagi masih belia
tiada sengatnya kan liar menyala
karena hawanya tak pernah sepanas bara

kenapa harus kau berikan segala yang kaupunya
bila sedenting sekerjap dan seberkas saja
telah mengisahkan lebih banyak cerita..?

———-

(when the whole story has been told, should I ask for more..?)

itu cuma selokan

Filed under: gloomy daisy — difla @ 5:21 am

itu cuma selokan. bukan kali jernih beriak putih. selokan itu kotor airnya, bau busuk dan anyir menguar kemana-mana sepanjang alirannya. kalaupun kaupaksakan berjalan menyeberanginya, lumpur sampah kota yang pekat mengental akan menempel erat setinggi lututmu, bau busuk dan anyirnya yang menyengat akan menetap disitu, bersama gatal-gatal dan ruam memerah yang ditinggalkannya di kakimu.

itu cuma selokan. bukan sungai indah menawan yang tepinya bisa dipakai jalan-jalan. tak ada bunga berwarna yang tumbuh di garis airnya. tak ada jalur pejalan kaki untuk mereka yang ingin cari angin di sore hari. kalaupun kaupaksakan berjalan menyusurinya, belukar berduri tajam bisa menusuk telapakmu yang tak bersepatu, menderakan perih berdarah yang akan membekas di kulitmu.

akulah selokan itu.
dan malangnya, kaulah pejalan kaki itu.

———-

(..wish I could forewarn you that I was such an adorable jerk..!)

my very own cul-de-sac

Filed under: gloomy daisy — difla @ 3:25 am

sejak berdirimu mendekati sudutku
adalah tengaran bagiku
akan bermulanya sebuah kurun waktu
ketika baraku jadi segenggam abu

sejak letikmu membiaskan pandangku
adalah pertanda bagiku
akan baurnya sekat yang buntu
menuju berandaku yang dingin membeku

sejak jelajahmu menyentuh ruangku
adalah peringatan bagiku
akan hilangnya batas membatu
dalam rumahku yang tak berpintu

kau boleh padamkan baraku
kau pun boleh masuk ke berandaku
dan buatkan aku sebuah pintu
agar aku bisa keluar dari rumahku

tapi berpaculah dengan waktu
dan tuntaskanlah maksudmu
sebelum merah senja menerbitkan kuldesak-ku
dan memenjarakan kebebasanmu

———-

(..yet still it takes me by surprise..)

August 20, 2005

gambar buram dalam bingkai retak

Filed under: gloomy daisy — difla @ 11:14 am

sebuah gambar buram memudar dalam bingkai yang retak itu kutemukan dalam kotak usang berdebu yang bertuliskan "masa lalu". rekahan itu makin melebar ketika kusentuh, lalu hancur menjadi kepingan-kepingan kecil, dan berjatuhan menimpa kakiku. kurekatkan lagi keping-keping kecil itu. semuanya bisa menyatu. tapi rekahannya tetap tersisa, menerakan jejalur memanjang, berkelok dan bercabang.

(ingin aku bertanya kepadamu: seburuk itukah masa laluku dan masa lalumu? serumit kelokan dan percabangan itukah jalan yang pernah kita lalui dulu?)

meski masih menyisakan rekahan yang membuatnya tidak sempurna, bingkai itu masih bisa menyatu kembali. namun gambar buram itu tetaplah gambar yang kabur, memudar dimakan waktu. apa yang bisa kulakukan untuk mempertajamnya? meski aku berusaha menggoreskan pensil warnaku dengan hati-hati, pastilah gambar itu akan tergores. ujung runcing pensil itu akan melukai permukaannya.

(dan aku juga ingin menanyakannya kepadamu: seburam itukah cerita yang dulu pernah kita lukis bersama? tidak bisakah kita memperbaikinya tanpa harus saling menggoreskan luka..?)

———-
(..after all, you’re still you..)

August 18, 2005

semangkuk tiramisu

Filed under: gloomy daisy — difla @ 12:06 am

semangkuk tiramisu itu terhidang di hadapanku.
begitu manis, menggoda, halus, lembut, sejuk, dan lumer di mulut . godaan untuk mencicipinya terlalu kuat untuk bisa kutahan. sesendok dua sendok dengan mudahnya menggelincir masuk tanpa bisa kucegah. dan ketika aku menyadarinya, semua sudah tertelan, habis tak bersisa..

aku menginginkannya lagi, tapi dia sudah tak ada.
meski manis kecap pertamanya masih terasa, yang tersisa cuma mangkuk gelas dingin yang berdenting ketika beradu dengan sendokku. dan itu menyentak kesadaranku. aku memang tak boleh lagi merasakan manisnya terkecap. tak boleh lagi merasakan segala kehalus-lembutannya menyentuh dan membuai. tak boleh lagi merasakan krimnya lumer menggelincir..

semuanya tak boleh lagi ada.
karena mangkuk gelasku telah kukosongkan malam itu. dan aku harus segera pergi, sebelum aku terhanyut, sebelum aku tak bisa menahan diri untuk memesan satu mangkuk lagi. aku harus segera pulang, agar penjaga rumah kecilku tidak menanti terlalu lama. meski sejujurnya aku tak tahu,  sebenarnya aku akan pulang kemana, dan tak tahu rumahku ada dimana..

———-
(..still homesick, while i no longer know where home is..)

August 12, 2005

lalu..

Filed under: gloomy daisy — difla @ 5:45 am

lalu..
kenapa harus kautanya
kulabuhkan kepada siapa
bila dermagamu sungguh tak terpeta?

lalu..
kenapa harus ada
sisa-sisa kegetiran bernoda
bila hasratmu bias cahaya?

lalu..
kenapa kauminta aku terjaga
dalam biduk resah gulana
bila pelitamu sekelam senjakala?

bila sunyimu kauanggap riuh makna
bila jelagamu kauanggap penuh warna
bila gulitamu kauanggap seterang surya
lalu..
kemana aku kan kaubawa?

———-

(..is the best yet to come..?)

August 8, 2005

bejana dahaga

Filed under: gloomy daisy — difla @ 11:53 am

selagi engkau tiada
aku tak berhenti mengembara
desah lepas lapis-lapis jelaga
hingga telanjang dan sia-sia
telah menjelma jadi haus dahaga

selagi aku lakoni pencarianku
kutemui rona resahmu yang pucat ungu
dan elah nafas takutmu akan pergiku
belum lelah aku berpacu
kenapa kautahan langkahku?

selagi heningmu menggigit di dini pagi
getirnya membuatku mengerti
bejana itu tak harus penuh terisi
dan aku harus berhenti
untuk menunggumu disini

——————–
(..if it takes control of my body and soul, should i -always- embrace it..?)

August 4, 2005

If We Must Die

Filed under: Uncategorized — difla @ 4:07 am

If we must die, let it not be like hogs
Hunted and penned in an inglorious spot,
While round us bark the mad and hungry dogs,
Marking their mock at our accursed lot.

If we must die, O let us nobly die,
So that our precious blood may not be shed
In vain; then even the monsters we defy
Shall be constrained to honor us though dead!

O kinsmen! We must meet the common foe!
Though far outnumbered let us show us brave,
And for their thousand blows deal one deathblow!
What though before us lies the open grave?

Like men we’ll face the murderous, cowardly pack,
Pressed to the wall, dying, but fighting back!

(Claude McKay, 1889-1948)

——————–
(for the loving memories of two good guys, good friends, who passed away in this recent two months.. "only good die young..!" )